Kasus pertama kali terjadi di Wuhan, China
dan masuk sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) karena virus Covid-19 belum pernah
ada sebelumnya. Menurut WHO (World Health Organization) virus ini menyebabkan
penyakit mulai dari flu ringan hingga infeksi pernapasan yang lebih parah
seperti MERS-CoV dan SARS-CoV. Virus ini bersifat zoonosis, artinya ini
merupakan penyakit yang dapat ditularkan antara hewan dan manusia seperti
Rabies dan Malaria. Virus telah menyebar ke 223 negara di dunia, termasuk
Indonesia (WHO, 2021). Covid-19 yang menyerang ini dapat dikatakan sebagai
wabah. Wabah adalah penyakit menular yang membuat penderita suatu penyakit
terus bertambah hingga melebihi kapasitas. Jika pada suatu wilayah terkena
wabah alangkah lebih baik apabila semua kegiatan diwilayah tersebut dibatasi,
agar wabah tersebut tidak menular kepada banyak masyarakat.
Salah satu jenis pembatasan sosial adalah
isolasi mandiri, yang telah dilakukan sejak adanya suatu wabah (Supriatna,
2020). Dalam perspektif kesehatan, isolasi mandiri diterapkan kepada seorang
yang diduga terjangkit wabah, baik yang telah merasakan suatu gejala penyakit
atau tidak bergejala. Isolasi juga diterapkan kepada seorang yang menjalin
kontak kepada orang yang terjangkit wabah (Kementerian Kesehatan RI). Individu
yang sakit dipisahkan dengan yang sehat, yang dinyatakan terinveksi atau diduga
mempunyai gejala seperti Covid-19 dipisahkan dengan yang tidak bergejala.
Isolasi Mandiri dapat dilakukan di rumah pribadi dengan kamar yang berpisah
dengan anggota keluarganya, atau fasilitas umum yang disediakan pemerintah
(Liang, 2020). Adanya tempat isolasi mandiri dengan pantauan petugas kesehatan
akan memudahkan pengendalian penyakit, namun tempat isolasi yang disediakan
pemerintah masih terbatas, sehingga seorang yang tidak segera melakukan isolasi
berpotensi menularkan wabah kepada yang lain (Nurdin, 2021). Apabila seseorang
terlah merasakan gejala terkena Covid-19, orang tersebut hendaknya melakukan
isolasi mandiri di rumah selama 14 hari.
Beberapa cara penularan virus corona COVID-19 yang
sering terjadi sebagai berikut:
1. Kontak
dengan benda yang sering tersentuh. Benda merupakan media yang bisa menjadi
cara penularan yang masif, sebab menurut penelitian virus corona COVID-19 dapat
bertahan hidup hingga tiga hari dengan menempel pada permukaan benda.
2. Tak
menjaga kebersihan tangan. Penularan dapat melalui kontak jabat tangan dengan
individu positif corona, orang yang sehat bisa tertular jika ia tak mencuci
tangannya dengan bersih setelah bersalaman.
3. Tidak
menjaga kebersihan setelah bepergian.
4. Tidak
menerapkan etika batuk dan bersin. Cara yang paling banyak menjadi media
penularan COVID-19 adalah melalui droplet yang kemudian menempel pada
benda-benda yang dibawa oleh orang lain.
5. Terjadi
interaksi dengan banyak orang. Berkumpul atau beraktivitas di tengah kerumunan
menjadi salah satu cara penularan virus corona COVID-19.
6. Tidak
isolasi diri setelah kembali dari wilayah pandemi
Kenali gejala Covid-19:
Gejala COVID-19 dimulai dengan batuk kering dan
diikuti dengan gangguan pernafasan. Batuk ini adalah batuk yang terus menerus
selama lebih dari satu jam atau mengalami betuk rejan selama tiga kali dalam
periode 24 jam, biasanya lima hari secara rata-rata bagi orang untuk
menunjukkan gejalanya namun bagi sebagian orang gejalanya lebih lambat terjadi.
Kemudian kehilangan indera penciuman dan perasa (Zendrato, 2020).
Jika Anda sudah merasa
badan tidak fit setelah melakukan aktivitas di luar, segera lah melakukan
isolasi mandiri selama 14 hari di rumah masing-masing, kemudian menghubungi
pihak kesehatan di masyarakat setempat agar mendapatkan perhatian khusus pada
saat isolasi mandiri. Jangan lupa untuk melakukan pemeriksaan ke puskesmas atau
rumah sakit terdekat.
Pramuka sebagai
organisasi yang dikenal berbagai kalangan baik anak-anak sampai orang dewasa,
memiliki peran yang besar dalam membantu pemerintah dalam menurunkan kasus
covid-19. Tidak luput Pramuka menjadi elemen sejak awal dalam membantu
masyarakat untuk tetap waspada menjaga kesehatan dalam masa pandemi yang tidak
berlalu. Dalam masa adaptasi baru peran Pramuka sebagai contoh dan penggerak
serta mengedukasikan kepada masyarakat tentang gejala-gejala covid yang harus
diketahui.
Masa pandemi belum berlalu,
Pramuka duta perubahan perilaku terapkan prokes nomor satu, seperti :
1. Mencuci tangan
pakai sabun dan air mengalir / memakai hand sanitizer. Mencuci
tangan hingga bersih adalah salah satu protokol kesehatan yang cukup efektif
terutama saat setelah menutup hidung saat batuk/bersin.
2. Memakai masker. Hal
yang terpenting saat keluar rumah yaitu memakai masker untuk mencegah kotoran
debu ataupun virus terhirup.
3. Menjaga jarak.
Menjaga jarak minimal 1 meter dengan orang lain untuk menghindari terkena
droplets dari orang yang bicara, batuk, atau bersin, serta menghindari
kerumunan, keramaian, dan berdesakan.
4. Menjauhi kerumunan.
Semakin banyak dan sering kamu bertemu orang, maka kemungkinan terinfeksi virus
corona pun semakin tinggi.
5. Membatasi mobilitas
dan interaksi. Semakin banyak menghabiskan waktu di luar rumah, maka semakin
tinggi pula terpapar virus. Oleh sebab itu, bila tidak ada keperluan yang
mendesak, tetaplah berada di rumah.
Sumber:
Zendrato, W. (2020).
Gerakan mencegah daripada mengobati terhadap pandemi covid-19. Jurnal
Education and development, 8(2), 242-242.
Nurdin, N.,
Bintarawati, F., & Nihayah, U. (2021). Isolasi Mandiri dalam Islam: Kritik
Metodologis Fatwa LBM PWNU Jawa Tengah tentang Anjuran Isolasi saat
Wabah. JIL: Journal of Islamic Law, 2(1), 1-21.
Supriatna, Eman. (2020). Wabah Corona Virus Disease
Covid-19 dalam Pandangan Islam. SALAM: Jurnal Sosial Dan Budaya Syar-I, 7 (6)
Liang, Tingbo. (2020). Handbook of COVID-19 Prevention
and Treatment. The First Affiliated Hospital, Zhejiang University School of
Medicine. Compiled According to Clinical Experience. Vol. 68.

No comments:
Post a Comment